Media Darling : Jokowi vs Sandiaga Uno

, , Comment closed

Media Indonesia sudah beberapa tahun ini dipenuhi dengan berita-berita politik yang rasanya hampir setiap hari ada saja berita-berita hangat, entah itu sesuatu yang positif, negatif, penting sampai tidak penting. Ditambah lagi dengan mendekatnya tahun politik, yaitu 2019, dimana akan diadakan pemilu, media kini beramai-ramai membahas calon presiden dan wakilnya diberita harian. Nama-nama yang sangat sering muncul dimedia adalah Jokowi dan Sandiaga Uno, bisa disimpulkan bahwa keduanya adalah media darling.

Media darling sendiri adalah sesuatu atau seseorang yang sangat disukai masyarakat, sehingga sesuatu dan seseorang tersebut hampir setiap hari akan terus dipublikasikan oleh banyak media (semakin banyak audiens semakin kaya media), dari media elektronik sampai media cetak. Menjadi media darling sendiri tidak perlu selalu membawa pesan dan kesan yang positif, banyak sekali aktivitas-aktivitas yang sesungguhnya tidak memiliki dampak besar dilakukan demi mendapat perhatian media. Bahkan tidak jarang juga kita menemukan orang-orang politik belomba-lomba untuk menjadi media darling dengan memberikan statement atau melalukan sesuatu yang nyeleneh.

jokowi sandiaga

tribunnews.co.id

Untuk Jokowi dan Sandiaga sendiri bisa dikatakan sebagai media darling dikarenakan kuantitas nama kedua tokoh tersebut masuk kedalam media. Tidak bisa dipungkiri keduanya sangatlah populer dengan media terutama anak-anak muda millennial, yang hampir setiap harinya menggunakan media internet untuk beraktivitas. Contoh aktivitas Jokowi untuk menarik perhatian masyarakat dan diliput media seperti membuat video viral untuk kampanyenya : Khong Guan. Video ini dibuat seunik mungkin dengan tujuan menjadi bahan pembicaraan masyarakat. Selain itu, aksinya yang keren di pembukaan Asian Games dengan melakukan stunt motor dan juga membuka acara besar IMF dengan statement dari acara TV Game of Thrones memang terkesan sekedar untuk hiburan, namun ini membuat orang banyak membicarakan peristiwa-peristiwa tersebut, sehingga media menggunakan kesempatan tersebut untuk membuat konten-konten baru untuk menarik pembaca/penonton lebih banyak.

Kasus Sandiaga Uno hampir sama dengan Jokowi, namun aktivitas yang dilakukannya lebih banyak menuai komentar dari netizen bahkan tidak sedikit membuat orang-orang menaikan kerut dahi karena tidak paham dengan statement-statement yang dibuatnya. Contohnya seperti statement tentang harga tahu yang mahal namun tahu yang didapatkan hanya setipis kartu ATM atau statement makan di Jakarta dengan Singapura, lebih murah di Singapura. Statement-statement tersebut membuat banyak orang bertanya-tanya dan juga memperdebatkan tentang kebenarannya, dan disaat inilah statement tersebut menjadi viral. Entah itu menuai efek yang positif atau tidak, tidak bisa dipungkiri bahwa statement yang dibawakan Sandiaga menjadi sangat populer dan banyak juga media yang kian menyebar luaskan berita tersebut.

Efek dari media yang terus kian menyebarluaskan berita-berita dari media darling ini ternyata memiliki dampak terhadap masyarakat, loh! Salah satunya adalah kecenderungan masyarakat dalam memilih calon presidennya. Perlu diketahui bahwa media adalah pilar ke-4 negara demokrasi, yang berarti memiliki peran dan pengaruh penting terhadap gejala sosial yang ada di Indonesia. Semakin viral dan semakin banyak berita yang diceritakan pada media, semakin populer dirinya, semakin besar elekbilitasnya, meskipun berita-berita yang muncul tidak selalu positif. Maka dari itu ada pentingnya untuk kamu yang membaca artikel ini untuk menjadi masyarakat yang terliterasi dan kritis, sehingga tidak mudah dikelabui media dalam memberikan suara didunia politik. Ketahui mana yang penting dan tidak penting, yang mana benar dan yang tidak benar! Jangan lupa untuk mencoba berpikir secara objektif sehingga kamu tidak mudah dibawa suasana panas terutama disaat kondisi politik yang sedang memanas ini. Semoga bermanfaat!