Kebijakan Sukanto Tanoto dalam Aspek Sustainability di Sateri sebagai Produsen Serat Viskosa Terbesar di Dunia

, , Comment closed

Royal Golden Eagle (RGE) merupakan sebuah korporasi kelas internasional yang didirikan oleh Sukanto Tanoto pada tahun 1967. Saat ini RGE telah menaungi tujuh anak perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang dan salah satunya adalah Sateri.Di bawah asuhan Bapak Sukanto, Sateri saat ini telah berkembang menjadi produsen serat viskosa terbesar di dunia.

Serat viskosa sendiri merupakan salah satu jenis kain yang dapat dipergunakan untuk berbagai keperluan tekstil seperti pakaian serta produk-produk higienis seperti tissue basah dan masker sekali pakai.  Serat viskosa memiliki berbagai kelebihan yang tidak dimiliki oleh material lain salah satunya adalah jenis kainnya yang dapat menyerap keringat dan lebih breathable untuk kenyamanan para penggunanya. Hal inilah yang membuat serat viskosa menjadi jenis material yang banyak dicari-cari oleh para produsen tekstil.

Produsen Serat Viskosa

Sateri hadir untuk memenuhi semua kebutuhan tersebut. Anak perusahaan dari RGE yang dikembangkan oleh bapak Tanoto ini telah sukses menjadi produsen terbesar tanpa melupakan prinsip dasar yang dipegang teguh oleh semua perusahaan Royal Golden Eagle yaitu tetap memperhatikan lingkungan dan alam sekitarnya, khususnya aspek sustainability.

Kebijakan dalam Aspek Sustainability

Aspek sustainability merupakan aspek yang mendapat perhatian besar dalam dunia industri di seluruh dunia. Hal ini erat kaitannya dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan khususnya dalam pemeliharaan sumber daya terbarukan.

Bapak Sukanto Tanoto dan pihak Sateri menanggapi hal ini dengan menerapkan beberapa kebijakan yang menjadi pegangan dalam menjalankan usaha yang ada.

  • Kebijakan yang pertama berkaitan erat dengan bahan baku yang dipergunakan dalam pembuatan serat viskosa itu sendiri.

Pihak Sateri menggunakan bahan baku berupa pulp kayu yang berasal dari perkebunan pohon ekaliptus yang telah menerapkan sistem tanam secara berkelanjutan atau dapat dikatakan bahwa bahan baku yang dipergunakan tidak berasal dari hutan yang dilindungi atau hutan tua yang merupakan habitat hewan liar.

Pohon ekaliptus sendiri siap panen saat mencapai usia 5-7 tahun untuk mendapatkan bahan baku terbaik. Sistem tanam berkelanjutan yang dipergunakan disini mengacu pada proses penanaman ulang pohon yang telah dipanen, sehingga supply untuk bahan baku ini akan selalu terjaga.

  • Kebijakan dalam hal pengelolaan limbah

Limbah menjadi salah satu aspek yang turut mendapat perhatian oleh bapak Sukanto Tanoto. Oleh karena itu, dalam proses pemintalan dan pengolahan bahan baku menjadi serat viskosa sendiri tidak terlepas dari manajemen pengelolaan limbah secara terpadu. Hal ini diwujudkan dalam beberapa cara, salah satunya adalah dengan menggunakan teknologi Eropa terbaru di pabrik pengolahan milik Sateri dengan tujuan meningkatkan efisiensi. Selain itu limbah yang ada baik dalam bentuk limbah kimia dan limbah cairan akan melewati proses pengolahan agar dapat dipergunakan kembali.

  • Kebijakan yang berkaitan dengan komunitas

Aspek sustainability yang diterapkan oleh Sateri dan Bapak Tanoto sendiri tidak berhenti pada lingkungan saja. Komunitas dan masyarakat, utamanya yang berdomisili di sekitar area pabrik Sateri mendapatkan perhatian khusus. Hal ini diwujudkan dalam berbagai bentuk, mulai dari mendonasikan buku-buku untuk perpustakaan lokal, membantu upaya pemulihan paska bencana, mendukung kegiatan budaya setempat, serta berupaya meningkatkan kesadaran warga sekitar akan pentingnya upaya menjaga kelestarian alam.

Berbagai kebijakan yang diterapkan oleh Bapak Sukanto Tanoto dalam menjalankan anak perusahaannya yaitu Sateri merupakan salah satu faktor pendukung keberhasilan mereka sebagai produsen serat viskosa terbesar dan terpercaya di dunia saat ini.