Fakta Seru Seputar Harry Potter and The Cursed Child

, , Comment closed

Pasca tayangnya film Fantastic Beast and Where to Find Them, euforia terhadap Harry Potter rasanya kembali meningkat lagi. Semua orang berlomba-lomba untuk membaca kembali serial Harry Potter, termasuk membaca buku terbarunya yang berjudul Harry Potter and The Cursed Child. Buku yang terbit pada bulan Juli lalu memang sangat hits dan laris maris. Promosinya yang gencar di internet dan channel tv kabel membuat buku ini pun ramai dibeli oleh pecinta Harry Potter.

Kalau kamu tertarik dengan buku ini, simak dulu fakta seru dibalik buku ini:

  1. Harry Potter and The Cursed Child merupakan buku kedelapan dari serial Harry Potter. Banyak yang tidak mengira bahwa buku ini merupakan buku lanjutan dari serial Harry Potter. Pasalnya, selain bentuknya yang seperti skrip, buku ini juga tidak secara penuh ditulis oleh JK Rowling. Selain itu, situs resmi dari buku ini juga mengamini fakta tersebut dengan mencantumkan tulisan “The eight story. Nineteen years later.” dalam websitenya. Dengan demikian, Harry Potter and The Cursed Child bukanlah buku prekuel seperti Fantastic Beast and Where to Find Them.
  2. Kata ‘Cursed Child’ merujuk pada anak kedua Harry Potter. Buat kamu yang penasaran dengan kata ‘Cursed Child’ yang diambil dalam judul buku ini, kata itu merujuk pada Albus Severus Potter. Albus merasa bahwa dirinya adalah ‘anak terkutuk’ karena ia masuk ke dalam asrama Slytherin alih-alih masuk ke dalam asrama Gryffindor seperti seluruh anggota keluarganya. Selain itu, ada sebuah kejadian di dalam buku yang merujuk ke dalam kata ‘cursed child’
  3. Buku ini ditulis oleh tiga orang. Tidak seperti buku-buku sebelumnya yang ditulis secara murni oleh JK Rowling, buku ini ditulis berbarengan oleh dua penulis lain. Rowling berkolaborasi dengan John Tiffany dan juga Jack Thorne untuk membuat buku ini dalam format skrip teater. Skrip ini pulalah yang digunakan oleh para pemain yang berperan dalam pertunjukan Harry Potter and The Cursed Child. Jadi, jangan heran ketika membaca buku ini kamu menemukan bentuk skrip alih-alih narasi.
  4. Tidak tayang dalam bentuk film, tapi dalam sebuah pertunjukan. Terkait dengan poin sebelumnya, buku ini memang dihadirkan secara visual kepada para pecinta Harry Potter. Hanya saja, buku ini tidak diangkat dalam bentuk layar lebar melainkan dalam sebuah pertunjukan. Pertunjukan digelar di London dan tiketnya sudah habis dalam beberapa waktu saja. Menarik sekali, ya!

Kamu sendiri, sudah baca buku ini belum? Kalau belum, coba cari bukunya dan baca sampai habis, yuk!