Begini Hidup Para Pro-Gamer di Korea Selatan

, , Comment closed

Pamor game online di Indonesia hingga saat ini masih sangat tinggi. Meski banyak diminati terutama oleh para pelajar, game online ini juga menuai kontroversi terutama di kalangan orang tua yang menganggap bahwa game online tersebut bisa mengganggu kegiatan belajar anaknya. Menurut mereka, game online ini akan membuat masa depan anaknya menjadi suram. Padahal, di negara Korea Selatan game online ini malah bisa menjadi sumber pendapatan yang bergengsi.

Pro-gamer atau mereka yang bermain game secara profesional merupakan salah satu profesi atau pekerjaan yang memiliki gengsi tinggi di Korea Selatan. Para Pro-gamer ini bisa memiliki pendapatan tinggi per tahunnya, hingga 400.000 dollar per tahunnya. Tingginya pendapatan mereka ini tergantung dari seberapa banyaknya turnamen game yang dimenangkan oleh mereka. Para pro-gamer ini pun hidup seperti layaknya selebriti, terkenal dan memiliki banyak penggemar. Tidak heran banyak anak muda Korea Selatan yang bercita-cita untuk menjadi seorang pro-gamer.

Pro-gamer kadang dianggap sama dengan seroang atlet, hal ini tidak salah bila mengingat ‘beratnya’ kegiatan mereka. Misalnya saja, pada saat turnamen berlangsung detak jantung pro-gamer ini bisa mencapai 160 detak per menit, sama seperti seroang atlet basket saat tengah bertanding. Belum lagi koordinasi kedua tangan mereka saat bermain. Satu kali pertandingan (sekitar 20menit) mereka bisa menekan mouse komputer sebanyak 500 kali. Keringat yang mereka keluarkan pun sama seperti atlet yang tengah bertanding. Akhirnya, sama seperti para atlet olahraga profesional, para ‘atlet’ game ini juga tidak lepas dari cidera fisik dan mental. Masalah kesehatan yang biasanya terjadi pada para pro-gamer ini misalnya saja nyeri punggung dan pundak, mata lelah, sakit kepala, hingga nyeri di pergelangan tangan.

Kehidupan pro-gamer ini tidak ubahnya seperti atlet olahraga pada umumnya. Biasanya mereka akan bergabung dalam satu kelompok yang disponsori oleh satu perusahaan besar. Mereka kemudian akan tinggal bersama dalam satu rumah atau apartemen. Setiap harinya mereka akan mengasah kemampuan game mereka mulai dari pagi hingga subuh. Mereka bahkan memiliki pelatih game yang biasanya merupakan pro-gamer profesional yang sudah pensiun. Selama setahun, mereka jarang meninggalkan apartemennya kecuali bila sedang ada suatu turnamen game yang harus didatangi.

Pamor pro-gamer ini tidak hanya terbatas di kalangan  Korea Selatan ini, tapi juga sampai ke internasional. Mengingat turnamen game yang diadakan biasanya hingga sampai kelas internasional, sebut saja Lee Yong Hoo yang merupakan pro-gamer dengan pendapatan terbesar ke-dua di dunia pada tahun 2013. Hmm, kira-kira kapan ya Indonesia bisa memiliki pro-gamer yang terkenal hingga ke dunia internasional seperti ini?